Geogle

Kamis, 19 Mei 2011

PEWARNAAN BAKTERI

Pengenalan bentuk mikroba (morfologi), kecuali mikroalgae harus dilakukanpewarnaan terlebih dahulu agar dapat diamati dengan jelas (Ramona dkk, 2007). Padaumumnya bakteri bersifat tembus cahaya, hal ini disebabkan karena banyak bakteri yangtidak mempunyai zat warna (Waluyo, 2004). Tujuan dari pewarnaan adalah untukmempermudah pengamatan bentuk sel bakteri, memperluas ukuran jazad, mengamatistruktur dalam dan luar sel bakteri, dan melihat reaksi jazad terhadap pewarna yangdiberikan sehingga sifat fisik atau kimia jazad dapat diketahui (Ramona dkk, 2007).

Berhasil tidaknya suatu pewarnaan sangat ditentukan oleh waktu pemberian warnadan umur biakan yang diwarnai (umur biakan yang baik adalah 24 jam). Umumnya zatwarna yang digunakan adalah garam-garam yang dibangun oleh ion-ion yang bermuatanpositif dan negatif dimana salah satu ion tersebut berwarna. Zat warna dikelompokkanmenjadi dua, yaitu zat pewarna yang bersifat asam dan basa. Jika ion yang mengandungwarna adalah ion positif maka zat warna tersebut disebut pewarna basa. Dan bila ionyang mengandung warna adalah ion negatif maka zat warna tersebut disebut pewarnanegatif (Ramona dkk, 2007).

Beberapa jenis pewarnaan antara lain adalah pewarnaan langsung denganpewarnaan basa, pewarnaan tidak langsung atau pewarnaan negatif dengan pewarnaanasam, pewarnaan gram, dan pewarnaan endospora. Pewarna basa akan mewarnai dindingsel bakeri yang relatif negatif, contohnya metiline blue dan kristal violet. Sedanglan padapewarnaan tidak langsung, yang terwarnai adalah lingkungan sekitar sel, tetapi tidakmewarnai sel karena daya mewarnai pada zat ini berada pada ion negatif dan tidakbereaksi dengan ion negatif lainnya dari sel bakteri (Ramona dkk, 2007).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar