Geogle

Rabu, 16 November 2011

SENYAWA ALKOHOL

A. Metanol

Dalam industri metanol diubah menjadi formaldehid atau digunakan untuk mensintesa bahan kimia lain. Metanol digunakan sebagai pelarut dan sebagai bahan bakar bersih. Metanol mungkin juga mempunyai kegunaan baru dalam bidang pertanian. Pada awal tahun 1990-an Arthur Nonomura, seorang ilmuan yang menjadi petani, menemukan bahwa dalam kondisi panas menyemprotkan larutan cairan metanol pada beberapa tumbuhan dapat menggandakan tingkat pertumbuhannya dan mengurangi kebutuhan air hingga separuhnya. Nonomura menyadari bahwa pada saat-saat panas dipertanian beberapa tumbuhan menjadi layu. Berdasarkan risetnya sebagai ilmuwan ia menyemprot beberapa tumbuhan dengan larutan metanol yang sangat encer. Tumbuhan yang disemprot tidak lagi layu dan tumbuh lebih besar pada tingkat yang lebih cepat daripada tumbuhan yang tidak disemprot. Akan tetapi metanol akan efektif dalam kondisi panas atau terkena sinar matahari dan untuk tumbuhan kapas, gandum, strawberi, melon dan mawar. Kegunaanya dapat terlihat jelas, hasil tanaman lebih banyak dan lebih cepat, penggunaan air lebih efisien, dan tidak diperlukannya pestisida.

Tidak seperti alkohol pada minuman, metanol tetap beracun meskipun dalam jumlah kecil. Gejala keracunan metanol adalah kebutaan karena metanol menyerang syaraf penglihatan; juga dapat berakibat kematian.

B. B. Etanol

Pada kebanyakan orang dewasa metabolisme tubuh dapat mencerna sejumlah kecil etanol dengan tingkat keracunan yang rendah. Etil alcohol pada umumnya disebut alkohol padi-padian atau alkohol minuman karena dapat dihasilkan dari fermentasi gula alam dan tepung yang dihidrolisa yang terdapat pada anggur dan padi-padian.

Seseorang dengan konsentrasi alkohol dalam darahnya mencapai 0,3% jelas terlihat mabuk; mereka yang mencapai 0,4% tidak sadar atau tidak mampu merespon tindakan; dan konsentrasi 0,5% - 1% dapat menyebabkan koma maupun kematian.

Pada orang yang kecanduan alkohol kemungkinan hidup berkurang 10hingga 15 tahun karena kerusakan hati dan penyakit jantung dan pembuluhdarah, khususnya jika mereka merokok. Hal ini merupakan karena pelarutorganik yang baik, etanol udah menembus pembatas darah otak danmembran plasenta, sehingga membahayakan janin pada ibu hamil. Gejala Fetal Alcohol Syndrome (FAS)/ sindrom pada janin meliputi sumbing pada wajah, ukuran otak di bawah normal, kesulitan pemahaman, dan perkembangan fisik yang terbelakang.

Etanol mempunyai banyak kegunaan lainnya, sebagai pelarut (vanilla atau ekstrak lain di rumah seringkali larutan etanol) dan antiseptik (pencuci mulut mengandung alkohol 5% - 30%). Etil alkohol yang dihasilkan untuk kegunaan selain konsumsi manusia diubah sifatnya dengan menambahkan metil dan isopropil alkohol dan tidak untuk minuman. Untuk tujuan komersial, bahan ini biasanya dihasilkan dari hidrasi etana.

Etanol dapat ditambahkan ke dalam bensin sebagai pengganti MTBE (methyl tertiary buthyl ether) yang sulit didegradasi sehingga mencemari lingkungan. Bensin yang ditambah etanol efisiensi pembakarannya meningkat sehingga pembakarannya. Akibatnya akan mengurangi tingkat pencemaran udara. Campuran bensin-etanol biasa diberi nama gasohol. Gasohol E10 artinya campuran 10% etanol dan 90% bensin, gasohol dapat digunakan pada semua tipe mobil yang menggunakan bahan bakar bensin.


C. C. Spiritus

Spiritus merupakan salah satu jenis alkohol yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan bakar lampu spiritus (pembakar spiritus) dan untuk menyalakan lampu petromak. Di laboratorium pembakar spiritus digunakan untuk uji nyala. Pembakar spiritus juga digunakan untuk proses sterilisasi di laboratorium mikrobiologi. Spiritus bersifat racun, karena adanya kandungan metanol didalamnya. Bahan utama spiritus adalah etanol dan bahan tambahan terdiri dari metanol, benzena dan piridin.

D. Glikol

Alkohol sederhana yang selama ini kita temui masing-masing hanya mengandung satu gugus hidroksil (-OH). Ini disebut alkohol monohidrat. Beberapa alkohol penting mengandung lebih dari satu gugus hidroksil tiap molekul. Ini disebut alkohol polihidrat. Alkohol yang mempunyai dua gugus hidroksil disebut alkohol dihidrat, dan yang mempunyai tiga gugus hidroksil disebut alkohol trihidrat.

Alkohol dihidrat sering disebut glikol. Yang paling penting dari jenis ini adalah etilen glikol. Nama IUPAC dari etilen glikol adalah 1,2-etanadiol. Senyawa ini merupakan bahan utama pada campuran antibeku permanen untuk radiator kendaraan bermotor. Etilen glikol adalah cairan yang manis, tak berwarna dan agak lengket. Karena keberadaan dua gugus hidroksil, maka ikatan intermolekul hidrogen menjadi lebih besar. Oleh sebab itu etilen glikol mempunyai titik didih yang tinggi (198oC) dan tidak menguap jika dipakai sebagai anti beku. Etilen gikol juga mudah bercampur dengan air. Suatu larutan 60% etilen glikol dalam air tidak membeku sampai suhunya turun hingga -49oC.

E. Gliserol

Gliserol juga disebut gliserin, merupakan salah satu senyawa alcohol trihidrat. Gliserol berbentuk cairan manis seperti sirup. karena tidak beracun, gliserol merupakan hasil dari hidrolisa lemak dan minyak Gliserol digunakan secara luas dalam bidang industri meliputi :

1. Pembuatan lotion tangan dan kosmetik.

2. Bahan tambahan dalam tinta.

3. Penganti pencahar gliserol.

4. Bahan pemanis dan pelarut pada obat-obatan.

5. Pelumas.

6. Bahan dasar dalam produksi plasik, pelapis permukaan dan fiber sintetik.

7. Bahan baku nitrogliserin.

F. Eter

Dietil eter digunakan secara luas sebagai obat bius sejak tahun 1842. Tetapi sekarang jarang digunakan sebagai obat bius untuk manusia karena mempunyai efek samping seperti: rasa sakit setelah pembiusan dan muntahmuntah. Sekarang terdapat banyak obat bius yang digunakan termasuk golongan eter. Metil propil eter dan metoksi fluorin merupakan obat bius yang dikenal sebagai neotil dan pentrene.

Dietil eter banyak digunakan sebagai pelarut, karena dapat melarutkan banyak senyawa organik yang tidak larut dalam air. Titik didih dietil eter 36oC, ini berarti dietil eter adalah zat yang mudah menguap. Keadaan ini akan memudahkan memperoleh kembali zat terlarut.

Etilen glikol digunakan untuk mensterilkan alat-ala kesehatan. Sebagian besar etilen glikol digunakan dalam pembuatan fiber poliester dan zat anti beku.


Sumber :

· http://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol

· http://kimiadahsyat.blogspot.com/2009/06/senyawa-alkohol.html

Kamis, 19 Mei 2011

PEWARNAAN BAKTERI

Pengenalan bentuk mikroba (morfologi), kecuali mikroalgae harus dilakukanpewarnaan terlebih dahulu agar dapat diamati dengan jelas (Ramona dkk, 2007). Padaumumnya bakteri bersifat tembus cahaya, hal ini disebabkan karena banyak bakteri yangtidak mempunyai zat warna (Waluyo, 2004). Tujuan dari pewarnaan adalah untukmempermudah pengamatan bentuk sel bakteri, memperluas ukuran jazad, mengamatistruktur dalam dan luar sel bakteri, dan melihat reaksi jazad terhadap pewarna yangdiberikan sehingga sifat fisik atau kimia jazad dapat diketahui (Ramona dkk, 2007).

Berhasil tidaknya suatu pewarnaan sangat ditentukan oleh waktu pemberian warnadan umur biakan yang diwarnai (umur biakan yang baik adalah 24 jam). Umumnya zatwarna yang digunakan adalah garam-garam yang dibangun oleh ion-ion yang bermuatanpositif dan negatif dimana salah satu ion tersebut berwarna. Zat warna dikelompokkanmenjadi dua, yaitu zat pewarna yang bersifat asam dan basa. Jika ion yang mengandungwarna adalah ion positif maka zat warna tersebut disebut pewarna basa. Dan bila ionyang mengandung warna adalah ion negatif maka zat warna tersebut disebut pewarnanegatif (Ramona dkk, 2007).

Beberapa jenis pewarnaan antara lain adalah pewarnaan langsung denganpewarnaan basa, pewarnaan tidak langsung atau pewarnaan negatif dengan pewarnaanasam, pewarnaan gram, dan pewarnaan endospora. Pewarna basa akan mewarnai dindingsel bakeri yang relatif negatif, contohnya metiline blue dan kristal violet. Sedanglan padapewarnaan tidak langsung, yang terwarnai adalah lingkungan sekitar sel, tetapi tidakmewarnai sel karena daya mewarnai pada zat ini berada pada ion negatif dan tidakbereaksi dengan ion negatif lainnya dari sel bakteri (Ramona dkk, 2007).

Senin, 16 Mei 2011

ISOLASI MIKROBA

Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan sangat komplek. Beratus-beratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan dan kulit.Sebagai contoh, sekali bersin dapat menyebarkan beribu-ribu mikroorganisme, satu tinja dapat mengandung jutaan bakteri (Pleczar, 1986).Produk pangan jarang sekali steril dan pada umumnya tercemar oleh berbagai jenis mikroorganisme (Buckie, 1978).

Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik untuk memisahkan suatu mikroba salah satu caranya ialah dengan mengisolasinya. Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan, sehingga diperoleh kultur murni atau biakkan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Beberapa cara yang dilakukan untuk mengisolasi mikrooraganisme antara cara goresan (streak plate), cara taburan/tuang (pourplate), cara sebar (spread plate), cara pengenceran ( dilution plate) serta micromanipulator (Pleczar, 1986). Kultur murni atau biakkan murni sangat berguna didalam mikrobiologi yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme (Hadioetomo, 1993).

Ada beberapa metode dalam mengisolasi bakteri, fungi, dan khamir (mikroorganisme) yaitu dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar, metode pengenceran serta micromanipulator.Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah teknik cawan dan cawan gores. Kedua metode ini berdasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan mikroorganisme sedemikian rupa sehingga tiap individu spesies dapat dipisahkan dengan lainnya (Hadioetomo, 1993).

Pada pengisolasian bakteri dari tanah/benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair, dilakukan serangkaian pengenceran terhadap zat tersebut.Misalnya suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran yang diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain (Dwidjoseputro, 1994). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan isolasi mikroba yaitu antara lain :

a. sifat setiap jenis mikroba yang akan diisolasi;

b. tempat hidup atau asal mikroba tersebut;

c. medium pertumbuhan yang sesuai;

d. cara menginokulasi mikroba;

e. cara menginkubasi mikroba;

f. cara menguji bahwa mikroba yang diisolasi telah berupa kultur murni dan

sesuai dengan yang dimaksud ;

g. cara memelihara agar mikrobia yang telah diisolasi tetap merupakan kultur

murni.

Penggunaan media bukan hanya untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan mikroba, tetapi juga untuk tujuan-tujuan lain, misalnya untuk isolasi, seleksi, evaluasi dan deferensiasi biakkan yang didapatkan.Artinya penggunaan jenis zat tertentu yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembang biakkan mikroba banyak dilakukan dan dipergunakan sehingga tiap-tiap media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya (Baker, 1986). Medium pertumbuhan mikroba adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrient yang diperlukan mikroba untuk pertumbuhannya.Dengan penggunakan medium pertumbuhan, aktivitas mikroba dapat dipelajari dan dengan medium tumbuh dapat dilakukan isolasi mikroba menjadi kultur murni, perbanyakan, pengujian sifat fisiologis, dan perhitungan jumlah mikroba (Pelczar,1986). Pengukuran kuantitatif populasi suatu mikroba dapat dilakuakn dengan penetuan jumlah sel dan penentuan sel (Fardiaz, 1992).Ada berbagai macam cara untuk mengukur jumlah sel antara lain dengan hitungan cawan, hitungan mikroskopis langsung atau dengan alat colony counter (Hadioetomo, 1993).

Perhitungan massa sel secara langsung maupun tidak langsung jarang digunakan dalam uji mikrobiologi bahan, tetapi sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan sel selama proses fermentasi.Dalam perhitungan massa sel secara langsung, jumlah sel jasad renik dapat dihitung jika medium pertumbuhannya tidak menggangu pengukuran.Sedangkan dalam perhitungan tidak langsung, dilakukan dalam mengamati pertumbuhan sel selama proses fermentasi, dimana komposisi subsrat atau bahan yang difermentasi dapat diamati dan diukur dengan teliti (Fardiaz, 1992). Selain mengukur jumlah sel, juga diperlukan diperhatikan pada koloni yang tumbuh dipermukaan medium yaitu besar kecil koloni, bentuk, kenaikan permukaan, halus kasarnya permukaan, wajah permukaan, warna, kesepakatan (Dwidjoseputro, 1994).

Senin, 25 April 2011

Acara 3

KHROMATOGRAFI KERTAS

A. PENDAHULUAN

Kimia analitik merupakan cabang ilmu kimia yang berhubungan dengan analisis komposisi bahan kimia. Analisis yang dimaksudkan disini meliputi identifikasi bahan yang disebut analisis kualitatif yaitu menentukan konsentrasi atau jumlah suatu bahan dan yang disebut analisis kuantitatif yaitu menentukan struktur suatu bahan.

Peran kimia analitik dalam suatu analisis kimia antara lain : mendapatkan nilai ekonomi, menentukan tingkat bahaya bagi kesehatan, diagnosa suatu penyakit, mempelajari sifat-sifat suatu bahan terhadap komposisi dan strukturnya, pengawasan mutu, dan melakukan penelitian.

Secara umum proses analisa diawali dengan menyiapkan rencana kerja atau tujuan, pengumpulan contoh, pengukuran contoh, melarutkan contoh, menghindari gangguan potensial, perlakuan terhadap contoh dan pengukuran analit, serta penghitungan jumlah analit dan evaluasi hasil analisa. Beberapa metode analisis yang sering dilakukan antara lain adalah gravimetri, titrimetri, khromatografi kertas, dan penentuan konsentrasi zat dengan cara spektofometri.

Fase tetap dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fase tetap berupa zat padat maka cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan, jika fase tetap berupa zat cair dikenal sebagai kromatografi partisi. Sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau gas. Berbagai jenis pemisahan yang sederhana dengan kromatografi kertas telah dikerjakan dimana proses dikenal sebagai analisa kapiler. Metode-metode seperti ini sangat bersesuaian dengan kromatografi serapan, dan sekarang kromatografi kertas dipandang sebagai perkembangan dari sistem partisi. Salah satu zat padat dapat digunakan untuk menyokong fase tetap yaitu bubuk selulosa.

  1. Dasar teori / Tinjauan Pustaka

1. Kromatografi

Pada awalnya kromatografi dianggap semata-mata sebagai bentuk partisi cairan–cairan. Serat selulosa yang hidrofilik dari kertas tersebut dapat mengikat air, setelah disingkapkan ke udara yang lembab, kertas saring yang tampak kering itu sebenarnya dapat mengandung air dengan persentase tinggi, katakan 20 % (bobot/bobot) akan lebih. Jadi kertas itu sebenarnya dapat mengandung air dengan persentase tinggi dan kertas itu dipandang sebagai analog dengan sebatang kolom yang berisi stasioner berair. Zat-zat terlarut itu padahal fase geraknya dapat campur dengan air akan dalam beberapa kasus, malahan fase geraknya adalah larutan itu sendiri (Day & Underwood, 1980).

Susunan serat kertas membentuk medium berpori yang bertindak sebagai tempat untuk mengalirkannya fase bergerak. Berbagai macam tempat kertas secara komersil tersedia adalah Whatman 1, 2, 31 dan 3 MM. Kertas asam asetil, kertas kieselguhr, kertas silikon dan kertas penukar ion juga digunakan. Kertas asam asetil dapat digunakan untuk zat–zat hidrofobik (Khopkar, 1990).

Selain kertas Whatman dalam teknik kromatografi dapat pula digunakan kertas selulosa murni. Kertas selulosa yang dimodifikasi dan kertas serat kaca. Untuk memilih kertas, yang menjadi pertimbangan adalah tingkat dan kesempurnaan pemisahan, difusivitas pembentukan spot, efek tailing, pembentukan komet serta laju pergerakan pelarut terutama untuk teknik descending dan juga kertas seharusnya penolak air. Seringkali nilai Rf berbeda dari satu kertas ke kertas lainnya. Pengotor yang terdapat pada kertas saring adalah ion-ion Ca2+, Mg2+, Fe3+, Cu2+ (Basset, 1994).

Dalam kromatografi, komponen-komponen terdistribusi dalam dua fase yaitu fase gerak dan fase diam. Transfer massa antara fase bergerak dan fase diam terjadi bila molekul-molekul campuran serap pada permukaan partikel-partikel atau terserap. Pada kromatografi kertas naik, kertasnya digantungkan dari ujung atas lemari sehingga tercelup di dalam solven di dasar dan solven merangkak ke atas kertas oleh daya kapilaritas. Pada bentuk turun, kertas dipasang dengan erat dalam sebuah baki solven di bagian atas lemari dan solven bergerak ke bawah oleh daya kapiler dibantu dengan gaya gravitasi. Setelah bagian muka solven selesai bergerak hampir sepanjang kertas, maka pita diambil, dikeringkan dan diteliti. Dalam suatu hal yang berhasil, solut-solut dari campuran semula akan berpindah tempat sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda, untuk membentuk sederet noda-noda yang

terpisah. Apabila senyawa berwarna, tentu saja noda-nodanya dapat terlihat (Day & Underwood, 1990).

Harga Rf mengukur kecepatan bergeraknya zona realtif terhadap garis depan pengembang. Kromatogram yang dihasilkan diuraikan dan zona-zona dicirikan oleh nilai-nilai Rf. Nilai Rf didefinisikan oleh hubungan:

Rf = Jarak (cm) dari garis awal ke pusat zona

Jarak (cm) dari garis awal ke garis depan pelarut

Pengukuran itu dilakukan dengan mengukur jarak dari titik pemberangkatan (pusat zona campuran awal) ke garis depan pengembang dan pusat rapatan tiap zona. Nilai Rf harus sama baik pada descending maupun ascending. Nilai Rf akan menunjukkan identitas suatu zat yang dicari, contohnya asam amino dan intensitas zona itu dapat digunakan sebagai ukuran konsentrasi dengan membandingkan dengan noda-noda standar (Khopkar, 1990).

Proses pengeluaran asam mineral dari kertas desalting. Larutan ditempatkan pada kertas dengan menggunakan mikropipet pada jarak 2–3 cm dari salah satu ujung kertas dalam bentuk coretan garis horizontal. Setelah kertas dikeringkan, ia diletakan didalam ruangan yang sudah dijenuhkan dengan air atau dengan pelarut yang sesuai. Terdapat tiga tehnik pelaksanaan analisis. Pada tehnik ascending; pelarut bergerak keatas dengan gaya kapiler. Sedangkan ketiga dikenal dengan cara radial atau kromatografi kertas sirkuler (Basset, 1994).

Kromatografi bergantung pada pembagian ulang molekul-molekul campuran antara dua fase atau lebih. Tipe-tipe kromatografi absorpsi, kromatografi partisi cairan dan pertukaran ion. Sistem utama yang digunakan dalam kromatografi partisi adalah partisi gas, partisi cairan yang menggunakan alas tak bergerak (misalnya komatografi kolom), kromatografi kertas dan lapisan tipis ( Svehla, 1979).

Distribusi dapat terjadi antara fase cair yang terserap secara stasioner dan zat alir bergerak yang kontak secara karib dengan fase cair itu. Dalam kromatografi partisi cairan, fase cair yang bergerak mengalir melewati fase cair stasioner yang diserapkan pada suatu pendukung, sedangkan dalam kromatografi lapisan tipis adsorbennya disalutkan pada lempeng kaca atau lembaran plastik (Basset, 1994).

  1. TUJUAN PERCOBAAN

1. Mahasiswa dapat mengenal dasar teknik analisis kromatografi kertas

2. Mahasiswa dapat memisahkan campuran yang didasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi komponen-komponen yang dipisahkan diantara dua fase (fase diam dan fase bergerak).

  1. BAHAN DAN ALAT

1. Bahan

a.Air suling/Aquadest

b.Kertas saring

c.Zat warna

2. Alat

a. Cawan Petri/gelas arloji

b. Gelas piala/gelas kimia

c. Syringe (jarum suntik)

  1. CARA KERJA DAN PELAKSANAAN PERCOBAAN

1. Cara Kerja

  1. Potong/gunting kertas saring persegi panjang dengan lebar 10 cm dan panjang/tinggi 15 cm. Diberi batas atas dan batas bawah kira-kira 1 cm dari batas tepi atas dan batas tepi bawah dengan cara diberi garis menggunakan pensil atau bisa juga ukuran kertas saring disesuaikan dengan gelas kimia/gelas piala yang akan digunakan.
  2. Beri noda (titik) kecil zat warna I dengan cara menyuntikan dengan syringe tepat pada batas bawah kertas.
  3. Pada jarak 2 cm dari noda I, disuntikan noda zat warna II, selanjutnya pada jarak 2 cm dari noda zat warna kedua disuntikkan noda zat warna campuran zat warna I dan II.
  4. Biarkan noda mengering
  5. Masukkan kertas tersebut dalam gelas kimia yang berisi aquades setinggi kira-kira ½ cm dari dasar gelas, sedemikianhingga posisi kertas saring hampir tegak lurus.
  6. Biarkan air merembes naik dari batas bawah ke batas atas kerats sambil membawa zat warna ikut naik.
  7. Jika pelarut telah mencapai kira-kira 2 cm dari batas atas, kertas saring diambil dan dikeringanginkan.
  8. Ukur (dari titik/noda) jarak yang ditempuh noda dan permukaan pelarut.
  9. Noda kertas diidentifikasikan menggunakan harga Rf (retordation factor)

  1. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

A. aquadest

Zat warna

Noda

Jarak noda

Jarak peirut

RF

TLC

kertas

TLC

Kertas

TLC

kertas

Merah (carmoisin)

Merah

5,9

7

6,2

7,2

0,95

0,97

Kuning (tatrazine)

Kuning

6,4

7,7

6,2

7,2

1,03

1,06

Biru (briliant blue)

Biru

4

7,8

6,2

7,2

0,64

1,08

campuran

(Tatrazine)

Kuning

7,2

7,5

6,2

7,2

1,16

1,04

(campuran)

merah

6,3

6,7

6,2

7,2

1,01

0,93

(Briliant blue)

biru

6

7,7

6,2

7,2

0,96

1,06

B. Asam asetat

Warna

TLC

Kertas

TLC

Kertas

TLC

kertas

Merah (carmoisin)

Merah

6,2

1,7

6,2

7,3

1

0,23

Kuning (tatrazine)

Kuning

6,5

5,4

6,2

7,3

1,05

0,73

Biru (briliant blue)

Biru

4,4

7,1

6,2

7,3

0,71

0,97

Campuran

(Tatrazine)

Kuning

6,8

5,4

6,2

7,3

1.09

0,74

(Campuran)

Merah

6,1

1,7

6,2

7,3

0,98

0,23

(Briliant blue)

biru

5

7,1

6,2

7,3

0,80

0,68

  1. PEMBAHASAN

Aquades akan terserap kedalam kertas saring dan secara otomatis akan bergerak naik perlahan-lahan. Seiring dengan dengan itu aquades akan melalui zat warna yang diteteskan pada kertas saring. Zat warna tersebut akan ikut bergerak naik bersama dengan aquades.

Dalam kegiatan analisa ternyata pergerakan aquades tidaklah sama. Hal ini dikarenakan posisi kertas saring di dalam gelas sangat sulit untuk tegak lurus, sehingga mengakibatkan perbedaan laju pergerakan aquades. Namun hal ini tidak berpengaruh terhadap pergerakan zat warna.

  1. KESIMPULAN

1. Dalam proses analisis kromatografi kertas diperlukan kehati-hatian. Karena hasil dari analisis sangat bergantung pada kehati-hatian analis.

2. Posisi kertas saring (tegak lurus atau tidak) ternyata tidak berpengaruh terhadap gerakan zat warna, tetapi hanya berpengaruh terhadap gerakan aquades saja.

  1. DAFTAR PUSTAKA

Basset, J, et al. 1994. Buku Ajar Vogel; Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

Day & Underwood. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta.

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Svehla, G. 1979. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Jilid 1 Edisi Kelima. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta.